Kamis, 29 Maret 2012

PERKEMBANGAN ILMU BAHASA

Sejarah perkembangan ilmu bahasa pada dasarnya bisa dikatakan bermula dari dua dunia, yaitu dunia Barat dan dunia Timur. Secara kebetulan bermulanya sejarah bahasa di dunia Barat dan di dunia Timur hampir bersamaan masanya, yaitu sekitar abad IV sebelum Masehi. Sejarah perkembangan bahasa di dunia Barat tersebut diawali dari Yunani Kuno, sedangkan perkembangan ilmu bahasa di dunia Timur di awali dari India.

1. Perkembangan Ilmu Bahasa di Dunia Barat
Sejarah perkembangan ilmu bahasa di dunia Barat dimulai sejak dua puluh empat abad yang lalu, yaitu abad IV sebelum Masehi. Plato (429-348 SM) menelorkan pembagian jenis kata berjasa Yunani Kuno dalam kerangka telaah filsafatnya. Ia sebenarnya tidak berfikir bahwa ia akan menjadi orang pertama yang memikirkan bahasa dan ilmu bahasa. Dalam kerangka telaah filsafatnya itu Plato membagi jenis kata bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yakni anoma dan rema. Secara awam anoma bisa disejajarkan dengan kata benda, sedangkan rhema bisa disejajarkan dengan kata kerja atau kata sifat. Pembagian ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles, murid Plato, dengan menambahkan jenis ketiga yaitu syndesmos, yaitu jenis kata yang tidak pernah mengalami perubahan bentuk. Sampai masa ini perkembangan bahasa terbatas pada telaah kata saja, khususnya tentang jenis kata.
Tata bahasa atau gramatika mulai diperhatikan pada akhir abad kedua Sebelum Masehi (130 SM) oleh Dyonisius Thrax. Buku tata bahasa yang pertama disusun itu berjudul “Techne Gramatike”. Buku inilah yang kemudian menjadi panutan para ahli tata bahasa yang lain. Para ahli tata bahasa yang mengikuti Thrax ini kemudian dikenal sebagai penganut aliran tradisionalisme. Pada zaman ini pembagian jenis kata meliputi: (1) nomina, (2) protonima, (3) artikel, (4) verba, (5) adverbia, (6) preposisi, (7) partisiplum, dan (8) konjugasi.
Ketika bangsa Romawi menaklukkan bangsa Yunani pun dikenakan pada bahasa Latin. Gramatisasi yang dikenal pada masa itu ialah Donatius (abad IV) dan Priscianus (abad V). Pembagian jenis kata pada saat itu menjadi tujuh, yaitu: nomina, protomina, verba, adverbia, preposisi, partisiplum, dan konjugasi/ konjugasio. Sedangkan pada abad pertengahan pembagian jenis kata dilakukan oleh Modistae. Ia membagi jenis kata menjadi delapan, yaitu: nomina, protomina, verba, adverbia, preposisi, partisiplum, konjugasio dan interjeksi. Pada masa Renaisance pembagian jenis kata kembali menjadi tujuh dengan menghilangkan jenis verba.
Sejak masa Yunani Kuno sampai akhir abad XIX ilmu bahasa lebih banyak menggeluti kata, khususnya problematika pembagian jenis kata. Ilmu bahasa komparatif yang juga berkembang pesat pada abad XIX hanya berhasil membandingkan kata-kata.
Awal abad XX muncul karangan Ferdinand de Saussure yang berjudul “Course de Linguistique Generale” (1916) yang merupakan angin segar bagi perkembangan ilmu bahasa moderen. Konsepnya tentang signifiant dan signifie merupakan kunci utama untuk memahami hakikat bahasa. Konsep lain yang ditampilkan antara lain Parole, Langue, dan Langage, representatif grafis serta deretan sintakmatik dan paradigmatik. Pandangan Saussure ini kemudain berkembang menjadi aliran strukturalisme tidak lagi menggunakan kriteria filosofis. Kriteria yang dipakai adalah kriteria struktur yang meliputi struktur morfologis, fraseologis, dan klausal.

2. Perkembangan Ilmu Bahasa di Dunia Timur
Sejarah perkembangan ilmu bahasa di dunia Timur dimulai dari India pada lebih kurang abad empat sebelum masehi, jadi hampir bersamaan dengan dimulainya sejarah ilmu bahasa di Barat. Perkembangan bahasa di dunia Timur ini ditandai dengan munculnya karya Panini yang berjudul “Vyakarya”. Buku tersebut merupakan buku tata bahasa Sansekerta yang sangat mengagumkan dunia, karena pada zaman yang sedini itu telah bisa mendeskripsikan bahasa Sansekerta secara lengkap dan seksama, teristimewa dalam bidang fonologinya. Huruf Devanagarai yang dipakai untuk melambangkan bunyi-bunyi bahasa Sansekerta demikian lengkap. Setiap bunyi diupayakan dilambangkan secara khas.
Di dunia tidak ada bahasa yang secermat ini sistem bunyi dan sistem tulisannya. Banyak ahli bahasa Barat yang kagum ddan tereperanjat setelah mengetahui bahwa tata bahasa Sansekerta pada zaman sedini ini sudah memiliki deskripsi yang tak ubahnya dengan deskripsi ahli bahasa struktural di Barat paada awal abad dua puluh. Bahkan banyak yang menilai bahwa deskripsi linguistik Panini ini merupakan deskripsi struktural paling murni. Sayangnya puncak strukturalisme terputus sama sekali dan tidak ada kelanjutannya barang sedikitpun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar